Connect with us
Hot FM

Viral

[VIDEO] Menteri Kesihatan Indonesia ‘Ghaib’ Selepas Angka COVID-19 Meningkat, Lihat Kelantangan Wartawan Ini

Soalan dia boleh tahan!

Published

on

Ketika menteri di negara-negara lain sibuk mencuba untuk memutuskan rantaian COVID-19, sehingga ada yang menarik diri dengan meletakkan jawatan, perhatian kini tertumpu ke arah Menteri Kesihatan Indonesia.

Perkara ini jelas dibicarakan baru-baru ini menerusi sebuah wawancara yang disiarkan menerusi stesyen televisyen Indonesia.

Apa yang menarik perhatian adalah gaya pengacara program berkenaan iaitu Najwa Shihab ketika mengendalikan segmen tersebut.

Jom kita saksikan:-

View this post on Instagram

Teman-teman, cukup banyak alasan mengapa diperlukan kehadiran pejabat negara untuk menjelaskan kebijakan yang berimbas kepada publik. Mengundang dan/atau meminta pejabat untuk menjelaskan kebijakan yang diambilnya adalah tindakan normal di alam demokrasi. Jika tindakan itu dianggap politis, penjelasannya tidak terlalu sulit. Pertama, jika “politik” diterjemahkan sebagai adanya motif dalam tindakan, maka undangan untuk Pak Terawan memang politis. Namun tak selalu yang politik terkait dengan partai atau distribusi kekuasaan. Politik juga berkait dengan bagaimana kekuasaan berdampak kepada publik. Kami tentu punya posisi berbeda dengan partai karena fungsi media salah satunya mengawal agar proses politik berpihak kepada kepentingan publik. Kedua, setiap pengambilan kebijakan diasumsikan adalah solusi atas problem kepublikan. Siapa pun bisa mengusulkan solusi, namun agar bisa berdampak ia mesti diambil sebagai kebijakan oleh pejabat yang berwenang, dan mereka pula yang punya kekuasaan mengeksekusinya. Menteri adalah eksekutif tertinggi setelah presiden, dialah yang menentukan solusi mana yang diambil sekaligus ia pula yang mengeksekusinya. Ketiga, tak ada yang lebih otoritatif selain menteri untuk membahasakan kebijakan-kebijakan itu kepada publik, termasuk soal penanganan pandemi. Selama ini, penanganan pandemi terkesan terfragmentasi, tersebar ke berbagai institusi yang bersifat ad-hoc, sehingga informasinya terasa centang perenang. Kami menyediakan ruang untuk membahasakan kebijakan penanganan pandemi ini agar bisa disampaikan dengan padu. Bedanya, media memang bukan tempat sosialisasi yang bersifat satu arah, melainkan mendiskusikannya secara terbuka. Keempat, warga negara wajib patuh kepada hukum, tapi warga negara juga punya hak untuk mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh negara. Warga boleh mengajukan kritiik dalam berbagai bentuk, bisa dukungan, usulan, bahkan keberatan. Padu padan dukungan, usulan, atau keberatan itu tak ubahnya vitamin yang — kadang rasanya dominan pahit tapi kadang juga manis — niscaya menyehatkan jika disikapi sebagai proses bersama. #MataNajwaMenantiTerawan #CatatanNajwa

A post shared by Najwa Shihab (@najwashihab) on

Menerusi temuramah tersebut, jelas menunjukkan Najwa seorang diri bertutur dengan sebuah kerusi kosong selepas ahli politik tersebut memilih untuk tidak menghadirkan diri.

Walaupun sudah beberapa kali diundang, Menteri Kesihatan Indonesia iaitu Terawan Agus Putranto tetap berdiam diri, malah dikatakan menghilang ketika angka COVID-19 meningkat di negara itu.

Temubual tersebut sehingga kini menjadi bualan orang ramai selain terdapat juga yang memuji kehebatan serta kelantangan Najwa ketika bersuara menanyakan beberapa soalan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Recommended Post

Advertisement

Facebook

Advertisement

Latest